Magic Tidak Tinggal Diam

June 27, 2009

Vince Carter dengan seragam barunyaOrlando, Fl

Hanya beberapa jam setelah Cleveland Cavaliers merekrut Shaquille O’Neal dari Phoenix Suns, jawara wilayah timur Orlando Magic langsung merespon perpindahan pemain tersebut. Magic, tim pertama Shaq ketika memulai kiprahnya di NBA, memboyong bintang New Jersey Nets Vince Carter untuk menambah daya gempur tim asal Orlando tersebut.

Carter akan bergabung bersama bintang Magic Dwight Howard dan Rashard Lewis. Sementara, bintang Magic lainnya asal Turki, Hidayat ‘Hedo’ Turkoglu kemungkinan besar akan tetap bermain untuk Magic setelah datangnya Vince Carter.

Carter dilepas oleh New Jersey Nets setelah Orlando Magic rela menukar Carter dengan 3 pemain sekaligus, yaitu point guard Raffer Alston, Tony Battie,  dan Courtney Lee. Magic mendapat satu tambahan pemain dari Nets yaitu Ryan Anderson. Bagi Carter ini adalah kepulangannya ke kampung halaman. Carter semasa kecilnya tinggal di Daytona Beach, Florida.

“Setiap pemain pasti memimpikan hal ini, untuk dapat bermain di Final NBA walaupun hanya sekali saja.” Ujar bintang NBA yang telah berkiprah selama 10 tahun tersebut. “Bagiku ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sekarang aku memiliki kesempatan untuk menjadi juara NBA.” Tambah Carter yang tahun ini genap berusia 32 tahun.

Magic mengalahkan Cavs di final wilayah timur setelah mampu mementahkan semua ‘senjata’ yang dimiliki Cavs. Termasuk ‘King’ James.

Tahun 2007, KG dan Ray Allen mendarat di Boston. Dan Celtics menjadi juara NBA 2008.

Febuari 2008, Pau Gasol memutuskan untuk memakai seragam ‘purple and gold’ milik Los Angeles Lakers. Dan Lakers berhasil melakukan ‘sweet revenge’ musim ini. Gagal di Final NBA 2008, mereka menjuarai NBA 2009.

Setelah Cavs memboyong Shaq, Magic membawa Carter pulang ke Florida.

Apakah ini juga berarti bahwa salah satu dari mereka akan mengangkat trofi Larry O’Brien Juni tahun depan?

(Sumber photo : nba.com)


Turnovers Salah Satu Faktor Kekalahan Magic Di Game 2

June 9, 2009

Para pemain Orlando MagicLos Angeles, Ca

Courtney Lee memang gagal memanfaatkan kesempatan untuk mencetak angka di akhir quarter ke 4 Game 2 NBA Finals. Dua kesempatan. Dua-duanya gagal.

Bernyata bukan itu yang menyebabkan kekalahan Magic. Bukan kesempatan untuk mencetak angka. Bukan tembakan yang meleset.

Magic melakukan 20 kali turnover, kehilangan bola yang menyebabkan penguasaan bola berpindah ke lawan. Berpindah ke Lakers.

Setelah kekalahan telak 25 poin di Game 1, Magic benar-benar tampil beda. Mereka bertahan lebih baik. Menembak lebih baik. Dan rebound lebih baik. Tapi semua itu menjadi sia-sia ketika mereka tidak dapat menguasai bola dengan baik pada pertandingan yang berakhir dengan kemenangan LA Lakers 101-96.

Di awal pertandingan, Magic bermain sangat bagus ketika bertahan. Mereka membuat Lakers hanya mampu mencetak angka 8 angka dari 23 kali penguasaan bola. Skor imbang di angka 15, rekor NBA untuk skor paling sedikit pada quarter pertama di NBA Finals. Tapi Magic kehilangan bola delapan kali.

Pada quarter-quarter selanjutnya Magic menguasai bola lebih baik. Dan mereka unggul 81-79 ketika pertandingan tersisa 4 menit lagi. Tapi ketika pertandingan memasuki masa-masa kritis, turnover kembali menampakkan dirinya ketika Magic menguasai bola.

Penyebab lain turnover-turnover tersebut adalah pemain pemain Lakers yang memiliki postur tinggi dan jangkauan tangan yang lebih panjang. Pemain Magic menemui kesulitan men-dribble dan mengoper bola ketika dibayang-bayangi tangan-tangan panjang defender Lakers. Lakers juga menunjukkan nuansa baru kepada Dwight Howard dengan menggiringnya ke arah baseline (daerah luar pertahanan), menjaganya untuk tetap berada disana dan kadang men-double team-nya.

Dari 103 pertandingan yang mereka jalani musim ini, tercatat hanya 3 kali Magic melakukan turnover lebih banyak dari pertandingan hari Minggu (Senin waktu Indonesia) tersebut.

Courtney Lee secara personal memang menyia-nyiakan peluang untuk memenangkan pertandingan.

Tapi Orlando Magic menyia-nyiakan 20 kali penguasaan bola.

Ahh, andai mereka tidak sebanyak itu kehilangan bola, mungkin hasilnya akan lain.

Mungkin. Siapa tahu?

(Sumber photo : nba.com, writer : John Schuhman, NBA Writer)


Lay Up Courtney Lee Bangkitkan Sejarah Kelam Magic

June 8, 2009

Courtney Lee berusaha memasukkan lay up sementara Gasol berusaha menghadangLos Angeles, Ca

Staples Center. 19,000 lebih penontonnya berdiri. Kebanyakan terlihat tegang. Bahkan para seleb hollywood yang biasa duduk di deret depan pun cemas. Mereka tidak sedang berakting.

Kedudukan imbang 88-88. 10.5 detik tersisa di akhir quarter 4. Courtney Lee, rookie (pemain debutan) Magic, men-drive bola menuju ring. Lay up. Gagal.

Waktu tersisa 9.1 detik, Lakers pun meminta time out. Lamar Odom menerima bola inbound (lemparan ke dalam). Passing ke Kobe. Kobe dengan berani men-drive bola ke dalam kerumunan pertahanan Magic. Kobe shoot dari jarak 3 meter. Tapi Hedo Turkoglu memblok tembakan dari belakang dengan waktu tersisa 1.8 detik.

Horn tanda pertandingan berakhir berbunyi. Staples Center pun bersiap untuk perpanjangan waktu.

Setelah berunding di Meja Skor. Para wasit sepakat untuk me-reset waktu ke 0.6 detik. Karena Hedo Turkoglu yang terakhir menguasai bola ternyata meminta time out.

Hedo Turkoglu melakukan lemparan ke dalam. Tapi dia tidak dapat menemukan pemain Magic yang bebas untuk menerima bola. Turkoglu meminta time out lagi.

Hedo melakukan lemparan ke dalam lagi. Tiba-tiba Courtney Lee berada dalam posisi bebas. Turkoglu lob bola pada Lee. Lee menerima bola di sisi kiri ring.

Lee langsung melakukan lay up. Big man Lakers Pau Gasol mencoba menghadang. Bola dipantulkan ke papan dan bergulir di atas ring. Lee gagal.

Pertandingan pun harus dilanjutkan ke perpanjangan waktu. Dan hasilnya sudah dapat kita ketahui siapa yang memenangkan pertandingan.

Hampir satu setengah dekade lalu, Magic memiliki sejarah serupa. Di ajang yang sama. Di Final NBA.

14 tahun yang lalu. Guard Magic kala itu, Nick Anderson melakukan hal serupa. Menjelang akhir Game 1 NBA Finals 1995 melawan Houston Rockets, Magic sedang unggul. Tapi Nick gagal memasukkan 4 lemparan bebas berturut-turut. Pertandingan pun dilanjutkan ke perpanjangan waktu. Dan Magic disapu Rockets 4-0.

Ketika itu Courtney Lee masih berusia sembilan tahun. Ia tahu kisah ini. Seluruh pemain Magic tahu kisah ini. Mereka tahu kesempatan untuk menjadi Juara tidak datang dengan mudah. Gagal sekali, entah kapan akan kembali.

Sejarah mencatat Magic di sweep di Final 1995. Lakers pun sudah 50% mendekati sejarah itu.

Apakah Orlando Magic akan membiarkan hal itu terjadi?

(Sumber photo : yahoo.com, writer : John Ludden, Yahoo! Sports)


NBA Finals Game 2 : Magic Gagal Manfaatkan Peluang

June 8, 2009

Turkoglu (15) memblok tembakan Kobe Bryant untuk memaksakan Overtime di Game 2Los Angeles, CA

Magic gagal untuk mencuri 1 kemenangan  di Staples Center, kandang Lakers, dan akhirnya Lakers memenangkan Game 2 NBA Finals melalui overtime 101-96.

Di akhir Quarter ke 4, ketika kedudukan 88-88, Courtney Lee, Guard Magic, gagal memasukkan dua tembakan untuk mencetak angka, dan Lakers memanfaatkan kesempatan untuk merebut Game ke 2 ini.

Kobe Bryant mencetak 29 angka pada pertandingan ini. Rekannya Pau Gasol menambahkan 24 angka, 7 diantaranya pada perpanjangan waktu, dan 10 rebound sementara Lamar Odom menambahkan 19 angka.

Bintang Magic Dwight Howard mencetak 17 poin dan 16 rebound dan rekannya Rashard Lewis mencetak 34 angka, 18 diantaranya di quarter ke 2.

Orlando Magic akan menjamu Lakers di Game 3 di stadion mereka Amway Arena, yang akan menyelenggarakan pertandingan final untuk pertama kalinya sejak 9 Juni 1995.

Ketika itu, Shaq muda di babat habis 4-0 di Final tersebut.

Magic telah 6 kali bertarung di Finals dan belum pernah menang 1 kalipun.

Akankah Superman merasakan pil pahit seperti Shaq dan disapu oleh Lakers?

Kita harap tidak. Magic harus berjuang. Berjuang keras. Karena Lakers sudah semakin dekat dengan apa yang menjadi target mereka musim ini.

Trofi Larry o’Brien.

(Sumber photo : nba.com writer : Beth Harris, AP Sports Writer)


Tembakan 3 Angka Kalahkan Magic

June 7, 2009

Rashard Lewis (9), salah satu penembak jitu MagicLos Angeles, CA.

Tembakan 3 angka menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Orlando Magic kalah pada Game 1 NBA Finals 2009 Kamis kemarin.

Ironisnya, bukan tembakan 3 Lakers yang mengalahkan mereka, tapi tembakan mereka sendiri.

Persentase tembakan 3 angka Magic, yang melesakkan rekor 17 tembakan 3 angka di Game 6 Final Wilayah Timur melawan Cavaliers, sangat buruk di Game tersebut.

Shooter-shooter Magic menembak dengan buruk walaupun mereka tetap mendapatkan banyak open shots. Turkoglu hanya 1-3, Lewis 2-4, Lee 1-4, dan Rafer Alston 0-4.

Magic hanya memasukkan 7 dari total 23 tembakan tiga Angka.

Tidak ada yang salah dengan strategi yang Magic jalankan di Game tersebut. Ketika Howard menguasai bola dibawah ring, dia dijaga oleh 2-3 pemain Lakers. Seperti pada babak-babak sebelumnya. Howard akan mengoper bola itu ke luar pada shooter-shooter Magic dibelakang garis 3 point.

Hanya saja, tembakan-tembakan itu tidak masuk Kamis lalu.

“Kami pernah menang karena tembakan 3 angka,” Ujar Rashard Lewis, Shooter Magic. “Tapi malam ini, kami kalah karenanya”.

Magic pernah berada dalam situasi yang lebih sulit dari ini. Dan tembakan 3 angka mereka menyelamatkan mereka.

Apakah besok, di Game 2 NBA Finals, Magic akan diselamatkan oleh tembakan 3 angka mereka?

(Sumber photo : nba.com writer : Rob Peterson)