Reuni Top 100 Camp di NBA Finals

June 13, 2009

Rashard LewisTahukah anda?

Jauh sebelum Rashard Lewis (Magic) dan Lamar Odom (Lakers) bertanding di NBA Finals, mereka pernah berlatih di Top 100 Camp.

Dua pemain Forward ini sama-sama mengikuti Top 100 Camp pada tahun 1997. Mereka adalah 2 dari 8 alumni Top 100 Camp lainnya yang bermain baik untuk Lakers maupun Magic.

Top 100 Camp adalah camp pelatihan bagi atlet-atlet basket SMU yang dibiayai oleh Asosiasi Pemain NBA. Camp ini dibentuk tahun 1994 untuk membantu mengembangkan bakat dan kemampuan atlet basket SMU di lapangan maupun di luar lapangan.

Odom adalah bintang SMU basket asal New York yang sebenarnya telah mendapat beasiswa dari UNLV (University of Nevada Las Vegas) sebelum akhirnya memilih untuk bermain di Rhode Island. Sementara Rashard Lewis akhirnya langsung “loncat” ke NBA dari SMU pada tahun 1998.

Dwight Howard (Magic) dan Jordan Farmar (Lakers) juga satu camp di tahun 2003.  Alumni lainnya yang juga ikut tampil di Finals tahun ini adalah Kobe Bryant (1994), Luke Walton (1998), Josh Powell (1999) dan Trevor Ariza (2002).

Top 100 Camp tahun ini, angkatan 2010, akan diadakan tanggal 17 s/d 24 Juni di University of Virginia. 24 dari 25 atlet basket SMU yang masuk ke dalam ranking tertinggi pilihan scout.com akan ikut serta di camp tersebut.

(Sumber photo : nba.com)

Advertisements

Lay Up Courtney Lee Bangkitkan Sejarah Kelam Magic

June 8, 2009

Courtney Lee berusaha memasukkan lay up sementara Gasol berusaha menghadangLos Angeles, Ca

Staples Center. 19,000 lebih penontonnya berdiri. Kebanyakan terlihat tegang. Bahkan para seleb hollywood yang biasa duduk di deret depan pun cemas. Mereka tidak sedang berakting.

Kedudukan imbang 88-88. 10.5 detik tersisa di akhir quarter 4. Courtney Lee, rookie (pemain debutan) Magic, men-drive bola menuju ring. Lay up. Gagal.

Waktu tersisa 9.1 detik, Lakers pun meminta time out. Lamar Odom menerima bola inbound (lemparan ke dalam). Passing ke Kobe. Kobe dengan berani men-drive bola ke dalam kerumunan pertahanan Magic. Kobe shoot dari jarak 3 meter. Tapi Hedo Turkoglu memblok tembakan dari belakang dengan waktu tersisa 1.8 detik.

Horn tanda pertandingan berakhir berbunyi. Staples Center pun bersiap untuk perpanjangan waktu.

Setelah berunding di Meja Skor. Para wasit sepakat untuk me-reset waktu ke 0.6 detik. Karena Hedo Turkoglu yang terakhir menguasai bola ternyata meminta time out.

Hedo Turkoglu melakukan lemparan ke dalam. Tapi dia tidak dapat menemukan pemain Magic yang bebas untuk menerima bola. Turkoglu meminta time out lagi.

Hedo melakukan lemparan ke dalam lagi. Tiba-tiba Courtney Lee berada dalam posisi bebas. Turkoglu lob bola pada Lee. Lee menerima bola di sisi kiri ring.

Lee langsung melakukan lay up. Big man Lakers Pau Gasol mencoba menghadang. Bola dipantulkan ke papan dan bergulir di atas ring. Lee gagal.

Pertandingan pun harus dilanjutkan ke perpanjangan waktu. Dan hasilnya sudah dapat kita ketahui siapa yang memenangkan pertandingan.

Hampir satu setengah dekade lalu, Magic memiliki sejarah serupa. Di ajang yang sama. Di Final NBA.

14 tahun yang lalu. Guard Magic kala itu, Nick Anderson melakukan hal serupa. Menjelang akhir Game 1 NBA Finals 1995 melawan Houston Rockets, Magic sedang unggul. Tapi Nick gagal memasukkan 4 lemparan bebas berturut-turut. Pertandingan pun dilanjutkan ke perpanjangan waktu. Dan Magic disapu Rockets 4-0.

Ketika itu Courtney Lee masih berusia sembilan tahun. Ia tahu kisah ini. Seluruh pemain Magic tahu kisah ini. Mereka tahu kesempatan untuk menjadi Juara tidak datang dengan mudah. Gagal sekali, entah kapan akan kembali.

Sejarah mencatat Magic di sweep di Final 1995. Lakers pun sudah 50% mendekati sejarah itu.

Apakah Orlando Magic akan membiarkan hal itu terjadi?

(Sumber photo : yahoo.com, writer : John Ludden, Yahoo! Sports)


Magic Terlalu Fokus Pada Kobe

June 8, 2009

Kobe Bryant (24) dijaga ketat oleh Courtney Lee di Game 2Los Angeles, CA

Orlando Magic menerapkan beberapa pola dan skema defensif yang memfokuskan untuk mematikan Kobe Bryant pada Game 2 NBA Finals. Dan mereka mendapat ganjarannya.

Dengan menekankan fokus pertahanan yang Bryant-minded, Pau Gasol dan Lamar Odom menjadi lebih leluasa ketika Lakers menyerang. Mereka berdua menghasilkan total 43 angka dan 18 rebound ketika Lakers menang 101-96 pada perpanjangan waktu Game ke 2.

Barisan pertahanan Orlando magic, Hedo Turkoglu, Mickael Pietrus dan J.J Reddick berganti-gantian bahkan kadang secara bersamaan menempel Kobe di pertandingan itu dengan harapan akan melambatkannya. Hasilnya Kobe Bryant “hanya” mampu mencetak 29 angka.

Pelatih Magic, Stan Van Gundy, harus mengevaluasi kembali skema pertahanannya di pesawat mereka menuju Orlando untuk Game 3 nanti.

Yang jelas, senjata Lakers bukan hanya Kobe Bryant. Atau mungkin Kobe hanya “umpan” untuk memancing barisan pertahanan Magic.

Kobe tidak seperti Lebron. Dan Lakers jauh berbeda dari Cavaliers.

(Sumber photo : nba.com, writer : Solange Reyner, AP Writer)


NBA Finals Game 2 : Magic Gagal Manfaatkan Peluang

June 8, 2009

Turkoglu (15) memblok tembakan Kobe Bryant untuk memaksakan Overtime di Game 2Los Angeles, CA

Magic gagal untuk mencuri 1 kemenangan  di Staples Center, kandang Lakers, dan akhirnya Lakers memenangkan Game 2 NBA Finals melalui overtime 101-96.

Di akhir Quarter ke 4, ketika kedudukan 88-88, Courtney Lee, Guard Magic, gagal memasukkan dua tembakan untuk mencetak angka, dan Lakers memanfaatkan kesempatan untuk merebut Game ke 2 ini.

Kobe Bryant mencetak 29 angka pada pertandingan ini. Rekannya Pau Gasol menambahkan 24 angka, 7 diantaranya pada perpanjangan waktu, dan 10 rebound sementara Lamar Odom menambahkan 19 angka.

Bintang Magic Dwight Howard mencetak 17 poin dan 16 rebound dan rekannya Rashard Lewis mencetak 34 angka, 18 diantaranya di quarter ke 2.

Orlando Magic akan menjamu Lakers di Game 3 di stadion mereka Amway Arena, yang akan menyelenggarakan pertandingan final untuk pertama kalinya sejak 9 Juni 1995.

Ketika itu, Shaq muda di babat habis 4-0 di Final tersebut.

Magic telah 6 kali bertarung di Finals dan belum pernah menang 1 kalipun.

Akankah Superman merasakan pil pahit seperti Shaq dan disapu oleh Lakers?

Kita harap tidak. Magic harus berjuang. Berjuang keras. Karena Lakers sudah semakin dekat dengan apa yang menjadi target mereka musim ini.

Trofi Larry o’Brien.

(Sumber photo : nba.com writer : Beth Harris, AP Sports Writer)


Big-men Faktor Kemenangan Lakers di Game 1

June 7, 2009

Dwight Howard (12) Menjaga ketat Andrew Bynum, salah satu big men Lakers.Los Angeles, CA.

Trio Big-men Lakers, Pau Gasol, Lamar Odom dan Andrew Bynum menjadi salah satu faktor kemenangan Lakers pada Game pertama NBA Finals 2009, Kamis kemarin.

Trio ini men-double team, bahkan triple team (3 orang menjaga 1 orang pemain) big men Magic, Dwight Howard setiap saat The Superman memegang bola.

Perolehan rebound Lakers pada Game tersebut jauh diatas Magic, yaitu 55-41. 40 diantaranya adalah defensive rebound.

Begitu Pula dengan perolehan points in the paint, tembakan dari bawah ring Lakers, yaitu 55 poin. 55 poin di area pertahanan teritorial Dwight Howard. Sementara Magic, dimana big men mereka begitu dominan di Final Wilayah Timur melawan Cavaliers hanya mampu mencetak 22 poin saja dari bawah ring.

Trio big men Lakers ini total mencetak 36 angka dan 31 rebound.

Kualitas mengalahkan kuantitas.

Tetapi, ketika kualitas sama, kuantitas yang akan bicara.

Di Game 1 kemarin, terbukti bahwa seorang Superman kalah jika dibiarkan bertarung sendiri melawan 3 raksasa.

(Sumber photo : nba.com, writer : Fran Blinebury)